<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4730472673767241230</id><updated>2012-02-16T00:16:41.993-08:00</updated><title type='text'>DenniZ IqbaL</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dennoz.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4730472673767241230/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dennoz.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>dennis iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01356102595190350980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4730472673767241230.post-4620497870676423794</id><published>2011-03-06T04:35:00.001-08:00</published><updated>2011-03-06T04:35:36.862-08:00</updated><title type='text'>apakah itu karya ilmiah</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Karya  ilmiah merupakan karya tulis yang menyajikan gagasan, deskripsi atau  pemecahan masalah secara sistematis, disajikan secara objektif dan  jujur, dengan menggunakan bahasa baku, serta didukung oleh fakta, teori,  dan atau bukti-bukti empirik.&lt;br /&gt;Tujuan penulisan karya ilmiah, antara lain untuk menyampaikan gagasan,  memenuhi tugas dalam studi, untuk mendiskusikan gagasan dalam suatu  pertemuan, mengikuti perlombaan, serta untuk menyebarluaskan ilmu  pengetahuan/hasil penelitian.&lt;br /&gt;Karya ilmiah dapat berfungsi sebagai rujukan, untuk meningkatkan  wawasan, serta menyebarluaskan ilmu pengetahuan. Bagi penulis, menulis  karya ilmiah bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan membaca dan  menulis, berlatih mengintegrasikan berbagai gagasan dan menyajikannya  secara sistematis, memperluas wawasan, serta memberi kepuasan  intelektual, di samping menyumbang terhadap perluasan cakrawala&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Ilmu  pengetahuan. Karya ilmiah populer adalah karya ilmiah yang disajikan  dengan gaya bahasa yang populer atau santai sehingga mudah dipahami oleh  masyarakat dan menarikUntuk dibaca.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ciri-ciri Karya Ilmiah&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;Ciri-ciri sebuah karya ilmiah dapat dikaji dari minimal empat aspek, yaitu struktur&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;sajian, komponen dan substansi, sikap penulis, serta penggunaan bahasa. &lt;/span&gt;Struktur  sajian karya ilmiah sangat ketat, biasanya terdiri dari bagian awal  (pendahuluan), bagian inti (pokok pembahasan), dan bagian penutup.  Bagian awal merupakan pengantar ke bagian inti, sedangkan inti merupakan  sajian gagasan pokok yang ingin disampaikan yang dapat terdiri dari  beberapa bab atau subtopik. Bagian penutup merupakan simpulan pokok  pembahasan serta rekomendasi penulis tentang tindak lanjut gagasan  tersebut.&lt;br /&gt;Komponen karya ilmiah bervariasi sesuai dengan jenisnya, namun semua  karya ilmiah mengandung pendahuluan, bagian inti, penutup, dan daftar  pustaka. Artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal mempersyaratkan adanya  abstrak. Sikap penulis dalam karya ilmiah adalah objektif, yang  disampaikan dengan menggunakan gaya bahasa impersonal, dengan banyak  menggunakan bentuk pasif, tanpa menggunakan kata ganti orang pertama  atau kedua. Bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah adalah bahasa baku  yang tercermin dari pilihan kata/istilah, dan kalimat-kalimat yang  efektif dengan struktur yang baku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Macam - macamKarya Ilmiah&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Artikel  Ilmiah Popular Berbeda dengan artikel ilmiah, artikel ilmiah popular  tidak terikat secara ketat dengan aturan penulisan ilmiah. Sebab,  ditulis lebih bersifat umum, untuk konsumsi publik. Dinamakan ilmiah  populer karena ditulis bukan untuk keperluan akademik tetapi dalam  menjangkau pembaca khalayak. Karena itu aturan-aturan penulisan ilmiah  tidak begitu ketat. Artikel ilmiah popular biasanya dimuat di surat  kabar atau majalah. Artikel dibuat berdasarkan berpikir deduktif atau  induktif, atau gabungan keduanya yang bisa ‘dibungkus’ dengan opini  penulis.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;&lt;br /&gt;Artikel Ilmiah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Artikel  ilmiah, bisa ditulis secara khusus, bisa pula ditulis berdasarkan hasil  penelitian semisal skripsi, tesis, disertasi, atau penelitian lainnya  dalam bentuk lebih praktis. &lt;/span&gt;Artikel ilmiah dimuat pada  jurnal-jurnal ilmiah. Kekhasan artikel ilmiah adalah pada penyajiannya  yang tidak panjang lebar tetapi tidak megurangi nilai keilmiahannya.&lt;br /&gt;Artikel ilmiah bukan sembarangan artikel, dan karena itu, jurnal-jurnal  ilmiah mensyaratkan aturan sangat ketat sebelum sebuah artikel dapat  dimuat. Pada setiap komponen artikel ilmiah ada pehitungan bobot. Karena  itu, jurnal ilmiah dikelola oleh ilmuwan terkemuka yang ahli  dibidangnya. Jurnal-jurnal ilmiah terakredetasi sangat menjaga pemuatan  artikel. Akredetasi jurnal mulai dari D, C, B, dan A, dan atau bertaraf  internasional. Bagi ilmuwan, apabila artikel ilmiahnya ditebitkan pada  jurnal internasional, pertanda keilmuawannya ‘diakui’&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;.&lt;br /&gt;Disertasi&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pencapaian gelar akademik tertinggi adalah predikat Doktor. &lt;/span&gt;Gelar  Doktor (Ph.D) dimungkinkan manakala mahasiswa (S3) telah mempertahankan  disertasi dihadapan Dewan Penguji Disertasi yang terdiri dari profesor  atau Doktor dibidang masing-masing. Disertasi ditulis berdasarkan  penemuan (keilmuan) orisinil dimana penulis mengemukan dalil yang  dibuktikan berdasarkan data dan fakta valid dengan analisis terinci.&lt;br /&gt;Disertasi atau Ph.D Thesis ditulis berdasarkan metodolologi penelitian  yang mengandung filosofi keilmuan yang tinggi. Mahahisiswa (S3) harus  mampu (tanpa bimbingan) menentukan masalah, berkemampuan berpikikir  abstrak serta menyelesaikan masalah praktis. Disertasi memuat  penemuan-penemuan baru, pandangan baru yang filosofis, tehnik atau  metode baru tentang sesuatu sebagai cerminan pengembangan ilmu yang  dikaji dalam taraf yang tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tesis&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Tesis  adalah jenis karya ilmiah yang bobot ilmiahnya lebih dalam dan tajam  dibandingkan skripsi. Ditulis untuk menyelesaikan pendidikan  pascasarjana. Mahasiswa melakukan penelitian mandiri, menguji satu atau  lebih hipotesis dalam mengungkapkan ‘pengetahuan baru’Tesis atau Master  Thesis ditulis bersandar pada metodologi; metodologi penelitian dan  metodologi penulisan. Standarnya digantungkan pada institusi, terutama  pembimbing. Dengan bantuan pembimbing, mahasiswa merencanakan (masalah),  melaksanakan; menggunakan instrumen, mengumpulkan dan menjajikan data,  menganalisis, sampai mengambil kesimpulan dan rekomendasi.Dalam  penulisannya dituntut kemampuan dalam menggunakan istilah tehnis; dari  istilah sampai tabel, dari abstrak sampai bibliografi. Artinya,  kemampuan mandiri —sekalipun dipandu dosen pembimbing— menjadi hal  sangat mendasar. Sekalipun pada dasarnya sama dengan skripsi, tesis  lebih dalam, tajam, dan dilakukan mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Skripsi&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Skripsi  adalah karya tulis (ilmiah) mahasiswa untuk melengkapi syarat  mendapatkan gelar sarjana (S1). Bobotnya 6 satuan kredit semster (SKS)  dan dalam pengerjakannya dibantu dosen pembimbing. Dosen pembimbing  berperan ‘mengawal’ dari awal sampai akhir hingga mahasiswa mampu  mengerjakan dan mempertahankannya pada ujian skrips. Skripsi ditulis  berdasarkan pendapat (teori) orang lain. Pendapat tersebut didukung data  dan fakta empiris-objektif, baik berdasarkan penelitian langsung;  observasi lapanagn atau penelitian di laboratorium, atau studi  kepustakaan. Skripsi menuntut kecermatan metodologis hingga menggaransi  ke arah sumbangan material berupa penemuan baru&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;.Kertas Kerja&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Kertas kerja pada prinsipnya sama dengan makalah. &lt;/span&gt;Kertas  kerja dibuat dengan analisis lebih dalam dan tajam. Kertas kerja  ditulis untuk dipresentasikan pada seminar atau lokakarya, yang biasanya  dihadiri oleh ilmuwan. &lt;span lang="FI"&gt;Pada ‘perhelatan ilmiah’  tersebut kertas kerja dijadikan acuan untuk tujuan tertentu. Bisa jadi,  kertas kerja ‘dimentahkan’ karena lemah, baik dari susut analisis  rasional, empiris, ketepatan masalah, analisis, kesimpulan, atau  kemanfaatannya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makalah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Lazimnya,  makalah dibuat melalui kedua cara berpikir tersebut. Tetapi, tidak  menjadi soal manakala disajikan berbasis berpikir deduktif (saja) atau  induktif (saja). Yang penting, tidak berdasar opini belaka.Makalah,  dalam tradisi akademik, adalah karya ilmuwan atau mahasiswa yang  sifatnya paling ‘soft’ dari jenis karya ilmiah lainnya. Sekalipun, bobot  akademik atau bahasan keilmuannya, adakalanya lebih tinggi. Misalnya,  makalah yang dibuat oleh ilmuwan dibanding skripsi mahasiswa.Makalah  mahasiswa lebih kepada memenuhi tugas-tugas pekuliahan. Karena itu,  aturannya tidak seketad makalah para ahli. Bisa jadi dibuat berdasarkan  hasil bacaan tanpa menandemnya dengan kenyataan lapangan. Makalah lazim  dibuat berdasrakan kenyatan dan kemudian ditandemkan dengan tarikan  teoritis; mengabungkan cara pikir deduktif-induktif atau sebaliknya.  Makalah adalah karya tulis (ilmiah) paling sederhana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Karya Tulis Non-ilmiah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Karya  non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang  pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat  subyektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya  bahasa yang popular atau biasa digunakan (tidak terlalu formal).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Ciri-ciri karya tulis non-ilmiah :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;ditulis      berdasarkan fakta pribadi,&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;fakta      yang disimpulkan subyektif,&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;gaya bahasa      konotatif dan populer,&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;tidak      memuat hipotesis,&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;penyajian      dibarengi dengan sejarah,&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;bersifat      imajinatif,&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;situasi      didramatisir,&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;bersifat      persuasif.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;tanpa      dukungan bukti&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Jenis-jenis yang termasuk karya non-ilmiah adalah dongeng, cerpen, novel, drama, dan roman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Perbedaan Karya Ilmiah dengan Non-ilmiah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Istilah  karya ilmiah dan nonilmiah merupakan istilah yang sudah sangat lazim  diketahui orang dalam dunia tulis-menulis. Berkaitan dengan istilah ini,  ada juga sebagian ahli bahasa menyebutkan karya fiksi dan nonfiksi.  Terlepas dari bervariasinya penamaan tersebut, hal yang sangat penting  untuk diketahui adalah baik karya ilmiah maupun nonilmiah/fiksi dan  nonfiksi atau apa pun namanya, kedua-keduanya memiliki perbedaan yang  signifikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Perbedaan-perbedaan yang dimaksud dapat dicermati dari beberapa aspek. &lt;i&gt;Pertama, &lt;/i&gt;karya  ilmiah harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual  objektif). Faktual objektif adalah adanya kesesuaian antara fakta dan  objek yang diteliti. Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan  atau empiri. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;&lt;b&gt;, &lt;/b&gt;karya ilmiah bersifat metodis dan  sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode atau  cara-cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur dan terkontrol  melalui proses pengidentifikasian masalah dan penentuan strategi. &lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;&lt;b&gt;, &lt;/b&gt;dalam  pembahasannya, tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa ilmiah. Dengan  kata lain, ia ditulis dengan menggunakan kode etik penulisan karya  ilmiah. Perbedaan-perbedaan inilah yang dijadikan dasar para ahli bahasa  dalam melakukan pengklasifikasian.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Selain  karya ilmiah dan nonilmiah yang telah disebutkan di atas, terdapat juga  karangan yang berbentuk semi-ilmiah/ilmiah populer. Sebagian ahli  bahasa membedakan dengan tegas antara karangan semi-ilmiah ini dengan  karangan ilmiah dan nonilmiah. Finoza (2005:193) menyebutkan bahwa  karakteristik yang membedakan antara karangan semi-ilmiah, ilmiah, dan  nonilmiah adalah &lt;i&gt;pada pemakaian bahasa, struktur, dan kodifikasi karangan.&lt;/i&gt;  Jika dalam karangan ilmiah digunakan bahasa yang khusus dalam di bidang  ilmu tertentu, dalam karangan semi-ilmiah bahasa yang terlalu teknis  tersebut sedapat mungkin dihindari. Dengan kata lain, karangan  semi-ilmiah lebih mengutamakan pemakaian istilah-istilah umum daripada  istilah-istilah khusus. Jika diperhatikan dari segi sistematika  penulisan, karangan ilmiah menaati kaidah konvensi penulisan dengan  kodifikasi secara ketat dan sistematis, sedangkan karangan semi-ilmiah  agak longgar meskipun tetap sistematis. Dari segi bentuk, karangan  ilmiah memiliki pendahuluan (&lt;i&gt;preliminaris) &lt;/i&gt;yang tidak selalu terdapat pada karangan semi-ilmiah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Berdasarkan  karakteristik karangan ilmiah, semi-ilmiah, dan nonilmiah yang telah  disebutkan di atas, yang tergolong dalam karangan ilmiah adalah laporan,  makalah, skripsi, tesis, disertasi; yang tergolong karangan semi-ilmiah  antara lain artikel, &amp;nbsp;&lt;i&gt;feature, &lt;/i&gt;kritik, esai, resensi; yang  tergolong karangan nonilmiah adalah anekdot, dongeng, hikayat, cerpen,  cerber, novel, roman, puisi, dan naskah drama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Karya  nonilmiah sangat bervariasi topik dan cara penyajiannya, tetapi isinya  tidak didukung fakta umum. Karangan nonilmiah ditulis berdasarkan fakta  pribadi, dan umumnya bersifat subyektif. Bahasanya bisa konkret atau  abstrak, gaya bahasanya nonformal dan populer, walaupun kadang-kadang  juga formal dan teknis. Karya nonilmiah bersifat (1) emotif: kemewahan  dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan  sedikit informasi, (2) persuasif: penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan  untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan  cukup informative, (3) deskriptif: pendapat pribadi, sebagian imajinatif  dan subjektif, dan (4) jika kritik adakalanya tanpa dukungan bukti.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4730472673767241230-4620497870676423794?l=dennoz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dennoz.blogspot.com/feeds/4620497870676423794/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dennoz.blogspot.com/2011/03/apakah-itu-karya-ilmiah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4730472673767241230/posts/default/4620497870676423794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4730472673767241230/posts/default/4620497870676423794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dennoz.blogspot.com/2011/03/apakah-itu-karya-ilmiah.html' title='apakah itu karya ilmiah'/><author><name>dennis iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01356102595190350980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4730472673767241230.post-4762778693794508174</id><published>2011-03-06T04:33:00.000-08:00</published><updated>2011-03-06T04:33:36.045-08:00</updated><title type='text'>deduktif, silogisme,hipotesis itu apa?</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;PENALARAN DEDUKTIF&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Penalaran Deduktif, yaitu adalah cara berpikir dengan berdasarkan suatu pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;Macam-Macam Silogisme di dalam Penalaran Deduktif:&lt;br /&gt;Di dalam penalaran deduktif terdapat entimen macam silogisme, yaitu  silogisme kategorial, silogisme hipotesis, silogisme alternatif dan  silogisme entimen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Silogisme Kategorial&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Silogisme kategorial disusun berdasarkan klasifikasi premis dan  kesimpulan yang kategoris. Premis yang mengandung predikat dalam  kesimpulan disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek  dalam kesimpulan disebut premis minor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silogisme kategorial terjadi dari tiga proposisi, yaitu:&lt;br /&gt;Premis umum : Premis Mayor (My)&lt;br /&gt;Premis khusus :Premis Minor (Mn)&lt;br /&gt;Premis simpulan : Premis Kesimpulan (K)&lt;br /&gt;Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term mayor, dan predikat simpulan disebut term minor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Contoh silogisme Kategorial:&lt;br /&gt;My : Semua mahasiswa adalah lulusan SLTA&lt;br /&gt;Mn : Badu adalah mahasiswa &lt;br /&gt;K : Badu lulusan SLTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My : Tidak ada manusia yang kekal &lt;br /&gt;Mn : Socrates adalah manusia &lt;br /&gt;K : Socrates tidak kekal &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My : Semua mahasiswa memiliki ijazah SLTA.&lt;br /&gt;Mn : Amir tidak memiliki ijazah SLTA&lt;br /&gt;K : Amir bukan mahasiswa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Silogisme Hipotesis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis.&lt;br /&gt;Konditional hipotesis yaitu, bila premis minornya membenarkan anteseden,  simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya menolak anteseden,  simpulannya juga menolak konsekuen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;My : Jika tidak ada air, manusia akan kehausan.&lt;br /&gt;Mn : Air tidak ada.&lt;br /&gt;K : Jadi, Manusia akan kehausan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My : Jika tidak ada udara, makhluk hidup akan mati.&lt;br /&gt;Mn : Makhluk hidup itu mati.&lt;br /&gt;K : Makhluk hidup itu tidak mendapat udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Silogisme Alternatif&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif.&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya  membenarkan salah satu alternatifnya. Simpulannya akan menolak  alternatif yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh &lt;br /&gt;My : Nenek Sumi berada di Bandung atau Bogor.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Mn : Nenek Sumi berada di Bandung.&lt;br /&gt;K : Jadi, Nenek Sumi tidak berada di Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My : Nenek Sumi berada di Bandung atau Bogor.&lt;br /&gt;Mn : Nenek Sumi tidak berada di Bogor.&lt;br /&gt;K : Jadi, Nenek Sumi berada di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Silogisme Entimen&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam  tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;- Dia menerima hadiah pertama karena dia telah menang dalam sayembara itu.&lt;br /&gt;- Anda telah memenangkan sayembara ini, karena itu Anda berhak menerima hadiahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun silogisme kategorial dapat dibedakan menjadi dua saja, yaitu&lt;i&gt; silogisme kategorial&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;silogisme tersusun&lt;/i&gt;. Dimana silogisme tersusun terbagi lagi menjadi tiga kategorial yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;a. Epikherema&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Epikherema adalah jabaran dari silogisme kategorial yang diperluas  dengan jalan memperluas salah satu premisnya atau keduanya. Cara yang  biasa digunakan adalah dengan menambahkan keterangan sebab: penjelasan  sebab terjadinya, keterangan waktu, maupun poembuktian keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Semua pahlawan bersifat mulia sebab mereka selalu memperjuangkan hak  miliki bersama dengan menomorduakan kepentingan pribadinya. Sultan  Mahmud Badaruddin adalah pahlawan. Jadi, Sultan Mahmud Badaruddin itu  mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;b. Entimem&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Silogisme ini merupakan jenis silogisme yang sama dengan pada penjelasan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;c. Sorites.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Silogisme tipe ini sangat cocok untuk bentuk-bentuk tulisan atau  pembicaraan yang bernuansa persuasif. Silogisme tipe ini didukung oleh  lebih dari tiga premis, bergantung pada topik yang dikemukakan serta  arah pembahasan yang dihubung-hubungkan demikian rupa sehingga predikat  premis pertama menjadi subyek premis kedua, predikat premis kedua  menjadi subyek pada premis ketiga, predikat premis kedua menjadi subyek  pada premis keempat, dan seterusnya, hingga akhirnya sampailah pada  kesimpulan yang diambil dari subyek premis pertama dan predikat premis  terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Pola yang digunakan sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S 1…………………………………………P1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S2 …………………………………………P2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S3……………………….…………………P3, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan: S1 ……………………………P3&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4730472673767241230-4762778693794508174?l=dennoz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dennoz.blogspot.com/feeds/4762778693794508174/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dennoz.blogspot.com/2011/03/deduktif-silogismehipotesis-itu-apa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4730472673767241230/posts/default/4762778693794508174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4730472673767241230/posts/default/4762778693794508174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dennoz.blogspot.com/2011/03/deduktif-silogismehipotesis-itu-apa.html' title='deduktif, silogisme,hipotesis itu apa?'/><author><name>dennis iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01356102595190350980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4730472673767241230.post-4687379240473075791</id><published>2011-03-06T04:30:00.000-08:00</published><updated>2011-03-06T04:30:27.578-08:00</updated><title type='text'>deduktif itu apa?</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;PENALARAN INDUKTIF&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Penalaran induktif adalah penalaran yang memberlakukan atribut-atribut khusus untuk hal-hal yang bersifat umum. Jadi&amp;nbsp;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;suatu  penalaran yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil  pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan  baru yang bersifat umum.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Contoh &amp;nbsp;penalaran induktif :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Harimau  berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. Babi berdaun telinga  berkembang biak dengan&amp;nbsp;&amp;nbsp; melahirkan.Ikan Paus berdaun telinga  berkembang biak dengan melahirkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kesimpulan: Semua hewan yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;GENERALISASI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;  Penalaran generalisasi dimulai dengan peristiwa-peristiwa khusus untuk  mengambil kesimpulan umum. Generalisasi adalah pernyataan yang berlaku  umum untuk semua atau sebagian besar gejala yang diamati. Generalisasi  mencakup ciri-ciri esensial, bukan rincian. Dalam pengembangan karangan,  generalisasi dibuktikan dengan fakta, contoh, data statistik, dan  lain-lain.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan umum.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;contoh generalisasi :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;• Julia Perez adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;• Asmiranda adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Generalisasi: Semua bintang sinetron berparas cantik.&lt;span lang="ES"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jenis-jenis generalisasi :&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;-Generalisasi Tanpa Loncatan Induktif&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Contoh: sensus penduduk&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;-Generalisasi Dengan Loncatan Induktif&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Adalah generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Contoh: Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang memakai celana pantalon.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT"&gt;ANALOGI&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Analogi  adalah suatu perbandingan yang mencoba membuat suatu gagasan terlihat  benar dengan cara membandingkannya dengan gagasan lain yang mempunyai  hubungan dengan gagasan yang pertama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://yogaskusumah.blogspot.com/" name="_ftnref2"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;jenis - jenis analogi :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;a. Analogi Induktif &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Analogi  induktif, yaitu analogi yang disusun berdasarkan persamaan yang ada  pada dua fenomena, kemudian ditarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada  fenomena pertama terjadi juga pada fenomena kedua.&lt;a href="http://yogaskusumah.blogspot.com/" name="_ftnref8"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;  Analogi induktif merupakan suatu metode yang sangat bermanfaat untuk  membuat suatu kesimpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan  yang terbukti terdapat pada dua barang khusus yang diperbandingkan.&lt;a href="http://yogaskusumah.blogspot.com/" name="_ftnref9"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Contoh analogi induktif : &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tim  Uber Indonesia mampu masuk babak final karena berlatih setiap hari.  Maka tim Thomas Indonesia akan masuk babak final jika berlatih setiap  hari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;b. Analogi Deklaratif &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Analogi  deklaratif merupakan metode untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu  yang belum dikenal atau masih samar, dengan sesuatu yang sudah dikenal.&lt;a href="http://yogaskusumah.blogspot.com/" name="_ftnref10"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;  Cara ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru menjadi dikenal atau  dapat diterima apabila dihubungkan dengan hal-hal yang sudah kita  ketahui atau kita percayai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;contoh analogi deklaratif :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;deklaratif  untuk penyelenggaraan negara yang baik diperlukan sinergitas antara  kepala negara dengan warga negaranya. Sebagaimana manusia, untuk  mewujudkan perbuatan yang benar diperlukan sinergitas antara akal dan  hati.3.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;KLASIFIKASI&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Klasifikasi  adalah pengelompokan yang sistematis daripada sejumlah obyek, gagasan,  buku atau benda-benda lain ke dalam kelas atau golongan tertentu  berdasarkan ciri-ciri yang sama&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Macam – macam klasifikasi :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;1. Klasifikasi Artifisial&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sistem  ini adalah mengelompokan bahan pustaka berdasarkan ciri atau  sifat-sifat lainnya, misal pengelompokan menurut pengarang, atau  berdasarkan ciri fisiknya, misalnya ukuran, warna sampul, dan  sebagainya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;2.Klasifikasi Utility&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pengelompokan  bahan pustaka dibedakan berdasarkan kegunaan dan jenisnya. Misal, buku  bacaan anak dibedakan dengan bacaan dewasa. Buku pegangan siswa di  sekolah dibedakan dengan buku pegangan guru. Buku koleksi referens  dibedakan dengan koleksi sirkulasi (berdasar kegunaannya).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;3. Klasifikasi fundamental&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pengelompokan  bahan pustaka berdasarkan ciri subyek atau isi pokok persoalan yang  dibahas dalam suatu buku. Pengelompokan bahan pustaka berdasarkan sistem  ini mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;a. Bahan pustaka yang subyeknya sama atau hampir sama, letaknya berdekatan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;b. Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menilai koleksi yang dimiliki &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;dengan melihat subyek mana yang lemah dan mana yang kuat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;c. Memudahkan pemakai dalam menelusur informasi menurut subyeknya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;d. Memudahkan pembuatan bibliografi menurut pokok masalah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;e. Untuk membantu penyiangan atau weeding koleksi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kasifikasi fundamental banyak digunakan oleh perpustakaan besar maupun kecil.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Dalam sistem tersebut buku dikelompokan berdasarkan subyek, sehingga memudahkan &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;pemakai dalammenelusur suatu informasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4730472673767241230-4687379240473075791?l=dennoz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dennoz.blogspot.com/feeds/4687379240473075791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dennoz.blogspot.com/2011/03/deduktif-itu-apa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4730472673767241230/posts/default/4687379240473075791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4730472673767241230/posts/default/4687379240473075791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dennoz.blogspot.com/2011/03/deduktif-itu-apa.html' title='deduktif itu apa?'/><author><name>dennis iqbal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01356102595190350980</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
